Showing posts with label Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Nusantara. Show all posts

Saturday, March 9, 2013

Ini Sejarahnya Krueng Aceh (Sungai Aceh)



"Krueng Aceh" atau jika diterjemah kedalam bahasa indonesiakan "Sungai Aceh" adalah salah satu sungai yang terletak di provinsi Aceh . Sungai ini berhulu di Cot Seukek Kabupaten Aceh Besar dan bermuara di desa Lampulo Kota Banda Aceh.

Krueng Aceh mempunyai panjang lebih kurang 145 km dan beberapa anak sungai bermuara ke badan sungai tersebut, antara lain Krueng Seulimum, Krueng Jrue, Krueng Keumireun, Krueng Inong, Krueng Leungpaga dan Krueng Daroy.

Krueng Aceh mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang aktivitas masyarakat kota Banda Aceh, diantaranya digunakan sebagai sarana air minum (PDAM), sarana transportasi air dan irigasi. Selain itu juga dipergunakaa sebagai sandaran kapal-kapal nelayan yang berada di sekitar badan sungai. Sedangkan aktivitas umum yang dipergunakan oleh masyarakat kota Banda Aceh antara lain seperti pencucian mobil, pakaian, dan boat-boat nelayan.
Krueng Aceh di masa lalu'

Sejarah
Keberadaan Krueng Aceh pada zaman Kesultanan Aceh Darussalam, memiliki nilai yang sangat strategis dalam menumbuh-kembangkan kota ‘Bandar Aceh’---sebagai ibukota Kesultanan Aceh Darussalam yang kosmopolit.

Pasca pemindahan istana Kesultanan Aceh Darussalam dari Gampong Pande ke Darud-Duniya (tempat berdirinya Meuligo Aceh) sekarang, oleh Sultan Alaidin Mahmudsyah (1267-1309 Masehi). Situasi ibukota Kesultanan Aceh Darussalam, ketika itu sangat ramai oleh lalu-lalang kapal-kapal berukuran besar yang masuk hilir mudik membawa barang-barang perdagangan ke tengah wilayah kota. Bahkan kapal-kapal besar dari mancanegara itu, bisa masuk langsung melalui jalur Krueng Aceh hingga menembus wilayah jantung kota. Hal ini dimungkinkan, karena pada saat itu jalur Krueng Aceh merupakan jalur bebas hambatan untuk masuknya kapal-kapal perdagangan dan kapal penumpang. Sebab, tak ada tiang-tiang jembatan Peunayong dan Pante Pirak yang berdiri di tengah sungai pada saat itu.

Fungsi Krueng Aceh pada saat itu, sekilas hampir menyerupai fungsi dari Sungai Rhein---sungai terpanjang di Eropa. Seperti kita ketahui, hingga kini aktivitas kapal-kapal dagang berukuran besar yang melintasi sungai Rhein sangat padat dan ramai Setiap hari berton-ton barang dan ribuan penumpang diangkut dari satu kota ke kota lainnya di Jerman. Kota Koln dan Bonn di Jerman, termasuk kota yang ditunjang perekonomiannya oleh ‘jasa baik’ aliran Rhein. Kemudian kemajuan ‘pemanfaatan jasa sungai’ yang serupa dengan Koln--- juga berlangsung di sejumlah kota lainnya--- di luar Jerman.
Pada umumnya, sejumlah kota besar di Eropa yang berada di pinggiran Rhein, menggunakan jasa aliran air Rhein untuk menunjang kelancaran transportasi kapal-kapal dagang dan kapal fery. Para turis yang berkunjung ke Jerman, biasanya saling berebut kesempatan untuk menatap pesona kemajuan arsitektur kota-kota di Jerman yang terpancar indah di sepanjang aliran Rhein. Sebagai informasi tambahan, aliran air sungai Rhein itu mengalir dari wilayah pegunungan Swiss, menuju Austria, Jerman, Perancis, Belanda, hingga ke sejumlah negara maju lainnya di Eropa. Dan akhirnya sungai Rhein bermuara ke Laut Utara.

Di sekitar jalur pinggiran sungai Rhein, banyak ditumbuhi oleh sejumlah kebun anggur. Suasananya sangat tertata rapi dan cantik. Banyak pula warga kota ataupun para turis yang memanfaatkan sungai Rhein, sebagai tempat untuk berwisata bersama keluarga, sambil menikmati sejumlah makanan yang tersaji di atas ‘restoran kapal’. Biasanya para turis suka menikmati makanan khas Eropa, seperti roti hamburger, pizza hut, donat, sambil mereguk beberapa minuman khas Amerika Serikat, seperti Coca Cola, Pepsi atau sejumlah minuman bercita rasa buah-buahan segar lainnya. Meskipun lalu-lintas kapalnya sangat padat, namun pergerakan kapal yang lalu-lalang di atas ‘jalur krueng Rhein’ itu tetap berlangsung dengan lancar dan tertib.

Kondisi ini hampir menyerupai pula dengan fungsi Krueng Aceh dulu. Pada masa Sultan Iskandar Muda, Krueng Aceh sangat ramai disinggahi dan dilalui oleh kapal-kapal besar yang mengangkut barang dan penumpang. Dan juga sangat ramai dikunjungi oleh kapal-kapal dari mancanegara, yang mengangkut sejumlah orang untuk berdagang ke Bandar Aceh Darussalam.
Berdasarakan silsilah sejarah, pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, panorama di pinggiran sungai Krueng Aceh dan Krueng Daroy dulu, banyak ditumbuhi oleh aneka pepohonan yang berbuah manis dan segar, serta dengan berbagai jenis rasa buah-buahan lainnya. Dan di sekitar Krueng Aceh dan Krueng Daroy, juga banyak ditumbuhi oleh aneka bunga yang mekar mewangi memenuhi Taman Bustanussalatin.

Terlebih dari itu, menurut Dr.Kamal A.Arif, “Pada zaman kesultanan Aceh Darussalam tempo doeloe, air sungai Krueng Aceh dipercayai memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Mohon maklum saja, karena pada masa lalu, sungai ini memiliki air yang bersih dan sehat. Orang-orang yang memiliki berbagai macam penyakit datang dari berbagai daerah untuk mandi di sungai tersebut. Francois Martin pada tahun 1602, menduga bahwa air sungai yang bersih ini memperoleh khasiat untuk menyembuhkan penyakit, karena adanya tanaman obat-obatan seperti kamper, dan pohon benzoat yang ditanam di hulu sungai.”

Para pedagang dari Arab, Turki, Kerajaan Mughal, dan dari berbagai tempat lain di seluruh India, setelah merasakan dan meminum air tersebut, mengatakan bahwa dari semua negara yang telah mereka kunjungi, tidak ada sungai yang seperti sungai di Krueng Aceh Darussalam, yang manis rasanya. Dan dapat menjadi obat bagi setiap manusia yang ikut minum dan mandi di dalam Krueng Aceh. Kondisi tersebut, juga berlaku sama bagi yang mandi dan minum di Darul-‘Isyki (Krueng Daroy), pada masa Kesultanan Aceh Darussalam dulu.

Sultan Iskandar Muda, yang sengaja membelokkan aliran air Krueng Daroy ke dalam istana. Sebagai Sultan Kerajaan Aceh Darussalam yang termasyhur dan teguh memegang adat, Sultan Iskandar Muda sangat memperhatikan sistem pelestarian lingkungan hidup. Dia melarang orang menebang pohon. Lalu Sultan, selalu menjaga kebersihan dan kejernihan sungai Krueng Daroy dan Krueng Aceh. Sehingga kedua sungai itu sangat higienis untuk tempat mandi, bahkan juga bisa menjadi obat penyembuh luka-luka pada bagian kulit. Atau dapat pula menyembuhkan berbagai jenis penyakit yang menahun lainnya, melalui proses penyegaran natural (alamiah) yang muncul dari air Krueng Aceh.

Dari segi higienis, Krueng Daroy dan Krueng Aceh pada masa lalu, jauh lebih jernih dari sungai Rhein. Kondisi Krueng Aceh dan Krueng Daroy, dapat lebih terjaga kedamaian dan kenyamanannya kala itu,karena semua aliran sungainya berada di bawah kedaulatan Sultan Iskandar Muda. Berbeda, dengan posisi sungai Rhein yang melintasi sejumlah negara di Eropa, dimana pada masa lalu sering menjadi wilayah perebutan kekuasaan antara berbagai negara di Eropa. Sejak masa kekaisaran Romawi.


Krueng Sikuleh, Jeramnya yang Ganas


KRUENG Sikuleh memang bukan sungai biasa. Sungai yang bermuara ke Teunom, Aceh Jaya ini bukan sungai yang gampang diarungi, termasuk oleh para pencinta alam sekalipun. Jeramnya ganas, karakternya juga berbeda dengan sungai-sungai biasa yang sering kita temui.

Sungai yang masuk ke kawasan hutan Ulu Masen ini dipenuhi dengan bebatuan gunung yang besar. Dan licin tentunya. Di sekitar sungai masih terdapat banyak hewan buas seperti harimau dan beruang. Sungai ini juga menjadi tempat bagi kawanan gajah untuk mandi.

Belum lagi dengan keanekaragaman pesona hayati di sekelilingnya. Tak heran jika di kalangan pencinta alam, khususnya yang sering melakukan arung jeram, krueng Sekuleh yang terletak di Kabupaten Pidie ini dikategorikan sebagai sungai “perawan”.

Karena status “perawan”nya itulah tak sedikit para pecinta olahraga arung jeram yang melirik kawasan sungai ini. Mereka tertantang untuk memacu adrenalin kala melewati lekuk-lekuk sungai yang dipenuhi batu-batu besar dan air yang deras.

Salah satu komunitas arung jeram yang tak bisa menahan diri untuk menyusuri sungai ini adalah Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaku Gunung dari Bandung, Jawa Barat. Ditemani anggota Mapala Leuser Unsyiah mereka pun mulai menguak eksotisme alam Sikuleh yang menjadi surga para rafter ini.

Gilang G Utama, salah satu anggota Wanadri kepada The Atjeh Post mengatakan bahwa mereka akan melakukan ekspedisi Seukuleh selama 14 hari. Awalnya, tim ini hanya merencanakan 11 hari saja.

“Karena kita harus menempuh perjalanan dalam hutan belantara selama tiga hari untuk sampai ke titik awal sungai Sekuleh,” kata Gilang, Minggu, 3 Juni 2012.

Setelah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan di hutan, tim harus memulihkan diri (recovery) dahulu sebelum melakukan aktivitas rafting. Wajar saja, sebab olahraga rafting membutuhkan ketahanan fisik yang prima.

Untuk mencapai titik awal ekspedisi, tim juga melibatkan sekitar 13 orang penduduk setempat. Mereka akan membantu tim untuk menyuplai peralatan yang dibutuhkan tim ekspedisi.

Gilang merupakan ketua tim operasi ekspedisi arus deras Seukuleh, dalam ekspedisi ini tim dibagi menjadi dua bagian. Yaitu tim pengarungan dan tim penjelajah gunung hutan yang akan bertindak sebagai tim evakuasi jika sewaktu-waktu dibutuhkan oleh tim pengarungan.

Pengarungan pertama, kata Gilang, tim mentargetkan menempuh rute hingga 11 kilometer di kawasan Alue Duek. Pada hari beritukutnya mereka mentargetkan akan berada pada posisi kilometer 35 di bawah kaki gunung Meundalat dan Alue Sarah Panah.

Di Alue Sarah Panah tim sudah memasuki kawasan kilometer 55 dan di sana tim akan beristirahat selama satu hari untuk memulihkan energi.

Namun, menurut prediksi Gilang, pada hari ke sembilan mereka akan menemui sedikit kesulitas. Mengingat jeram di area tersebut sulit dilewati dan sangat berbahaya.

“Selain itu juga sangat beresiko, jeramnya berada di kawasan koordinat 95' 57’ 17” Bujur Timura dan 45' 46’ 51” Lintang Utara dengan area jeram 750 meter,” kata Gilang.

Rute tersebut, menurutnya satu-satunya jalan Lining (melipir sungai) dan portaging (angkat perahu dan beban) dan salah satu kesulitas saat mengarungi sungai-sungai baru.

Dan sebelum memasuki kawasan Teunom, perjalanan mereka bisa saja terkendala oleh karakter sungai yangt berbeda-beda. Panjang sungai yang mereka susuri dalam ekspedisi Sekuleh ini lebih kurang sepanjang 98 kilometer. Titik awal keberangkatan dari Tangse, Pidie dan berakhir di desa Sarah Raya Aceh Jaya.


Krueng Teunom, lokasi rafting menantang di Aceh




Kabupaten Aceh Jaya merupakan wilayah pesisir yang terletak di kawasan barat pantai Sumatera yang memiliki keindahan panorama alam, salah satu dari sekian banyak keindahan itu, Aceh Jaya diantaranya yang menyimpan derasnya aliran Kreung Teunom. Kreung (sungai) Teunom yang merupakan salah satu sungai terdahsyat di Provinsi Aceh dengan panjang sungai berkisar 57 km dari Cot Kuala Kecamatan Mane Kabupaten Pidie, sunagi-sungai yang mengaliri Kreung Teunom diataranya Kreung Geumpang, Kreung Sekuleh, Kreung Beutung dan masih banyak lagi sungai-sungai kecil yang bermuara ke sungai Teunom,ribuan kubik setiap harinya air mengalir di sungai tersebut.

Kreung dalam bahasa Aceh yang mempunyai arti Sungai dimana masyarakat mencari nafkah baik memanicing maupun memanfaatkan air sungai sebagai aliran untuk persawahan juga dimanfaatkan sebagai wadah temapat olahraga arus deras yaitu Arung Jeram.
Aliran Sungai kerung Teunom menyimpan banyak keindahan alam baik panorama serta flora dan fauna, Kreung teunom secara geografis merupakan kawasan hutan Ulu Masen yang tentu saja daerah yang masih sangat perawan denagn sejuta keindahan, di sepanjang sungai terdapat bebatuan serta belasan air terjun disisi kanan-kiri Kreung teunom yang bermuara ke Desa Sarah Raya Aceh jaya.

Akhir tahun 2011 silam saya dengan kawan-kawan dari Mapala Leuser Unsyiah melakukan Ekspedisi Arung jeram di Kreung Teunom, kala itu kita beranggotakan 12 orang yang dilengkap 3 buah perahu oval serta perlatan pendukung lainnya, sempat terjadi ketegangan didalam benak ketika salah seorang penduduk setempat bilang sebelumnya ada mayat hilang di aliran Kreung teunom pada kala itu.
Namun, dengan niat dan tekat tim waktu itu terus mencoba untuk melakukan pengarung tak jahu dari titik awal pengarungan tampak jeram dengan suara yang gemuruh riam jeram bersambutan bak perit disiang hari, perasaan tegang dan cemas pun terus menghantui, dan ketia kapten perahu berteriak “maju-maju-maju-maju” para awak pun dengan semangat “Hajar”, nafas pun lega ketiak perahu melewati jeram tersebut, selang beberapa meter tim kembali dihadang jeram yang tidak kala dahsyat dari sebelumnya, tim pun terhenti kala itu di karenakan jeram tersebut tidak layak untuk dilewati sebab risikonya tinggi dan itu sangat membahayakan “kata Lian Arkanullah
Semapt terucap dari kata-kata Anas yang merupakan pelaku arung jeram di Indoneisa yang sekaligus pemilik perusahan perhu Boogie bilang kenapa sungai ini tidak di pilih Oleh Norman Edwin ketika ekspedisi ke Aceh tahun 90-an sebab sungai ini sangat dahsyat dan belum lagi tempatnya sangat indah seperti Thailand.

Sepanjang aliran sungai selain derasnya jeram, Kreung teunom menyimpan banyak keindahan alam diantaranya tebing-tebing karts yang menghimpit sungai dengan ketinggian yang sangat bervariasi dari mualia puluhan meter hingga ratusan meter dan terdapat air yang menetes pelan-pelan di atas bebatuan cadas tersebut, dan tak jarang di sepanjang sungai terdapat air terjun yang tumpa ke aliran Kreung Teunom, kembali laki terucap kata-kata dari Anas lelaki 45 tahun gila indah sekali temapat ini belum pernah selam umur saya menjumpai tempat seindah ini apalagi ketika M.Aritanoga mengatakan didepan lebih indah lagi karena kita akan menjumpai “Semen Tuhan”,

Ketika tim pada saat itu tibah di dinding yang berbentuk semen yang panjangnya di perkirakan 40-50 lebih meter membentang sisi-sisi sungai, aliri air diatasnya yang mengalir ke Kreung teunom, semua tim bilang “kita ini lagi dimana” lain lagi kata Candra Putra anggota tim dari Bandung tersebut “ini yang saya suka dari Aceh” selin jeramnya dahsyat sungainya sangat indah.
Salah satu air terjun yang menurut pengakuan masyarakat desa Sarah Raya, bernama Ceuraceu Embun merupakan daya tarik tersendiri. Air yang jernih dengan ketinggian diperkirakan lebih dari 50 meter dan bertingkat yang sering didatangi oleh penduduk setempat bahkan turis Asing sepmat menijau lokasi tersebut.

Selama perjalanan mengarungai sungai yang lebih kurang 7 hari tersebut ketika kita sampai di hulu Desa Sarah Raya suasana hulu sungai tersebut tak jahu dari Desa yang bisa di capai dengan boat nelayan desa setempat, Muhammad salah seorang pawang sungai yang kami jumpai pada waktu itu sempat berkata “Selama saya hidup 73 tahun, belum ada orang yang berhasil turun dengan selamat dari Krueng Teunom. Biasanya, yang sampai kemari hanya tinggal tubuh yang mengapung kalau ada orang hanyut. Tapi kalian turun dari atas dengan ban (perahu) karet ini, betul-betul gila dan nekat,” jelas kakek ini menunjuk perahu yang digunakan untuk pengarungan tersebut.

 

Aceh Jaya juga memiliki panjang garis pantai mencapai sekitar 160 kilometer dengan luas wilayah mencapai 32.627 Km2 dengan posisi sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie, sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia dan Kabupaten Aceh Barat, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Aceh barat dan sebelah barat berbatasan dengan Samudera Indonesia.


Menikmati Sejuknya Air di Lokasi Wisata Brayeun


Banda Aceh - Dimana tempatnya bisa mandi, sambil berperahu, dikelilingi pohon duren terus kalau lapar bisa makan gorengan? Kalau Anda berada di Aceh maka salah satu pilihan yang tepat adalah bendungan Brayeun yang terletak di kecamatan Leupung Aceh Besar, sekitar satu jam berkendaraan dari Banda Aceh. Tempatnya tidak sulit dijangkau, sudah ada jalan aspal untuk mencapainya walaupun 20 menit menjelang lokasi pengunjung harus bersiap-siap untuk menikmati “rodeo” akibat jalan yang belum beraspal.

Semenjak tiga tahun belakangan ini Brayeun menjadi primadona baru tujuan wisata bagi penduduk Banda Aceh dan sekitarnya. Jika sebelumnya warga sudah terbiasa dengan wisata pantai atau air terjun kini tempat wisata Brayeun menjadi salah satu pilihan utama. Selain tempatnya sejuk dan rimbun, arena pemandiannya juga relatif aman, ada yang dangkal walaupun ada yang dalam juga. Bahkan di pinggirannya bisa berdiri anak usia tujuh tahun tanpa takut tenggelam. Mau berperahu pun enak, tinggal sewa perahu karet yang tarifnya Rp.20 ribu/jam. Mau lebih murah juga bisa, tunggu saja menjelang jam enam sore, ketika pengunjung sudah sepi dan lokasi juga mau ditutup. Anda bisa puas berperahu tanpa takut disemprit pluit petugas yang mengingatkan waktu telah habis.

Berkendaraan menuju lokasi sangat mengasyikan apalagi pemandangan menjelang sampai di lokasi sangat memanjakan mata. Di kiri-kanan jalan tampak sawah, bukit yang rimbun serta barisan pohon durian yang bisa meneteskan air liur jika musim durian tiba. Jalanan memang tidak terlalu lebar, hanya pas untuk dua mobil, dimana salah satu mobil harus berhenti sejenak jika berpapasan dengan mobil lain.

Bagaimana dengan biaya yang harus disiapkan? Beberapa pria yang berdiri di gerbang masuk mengutip uang Rp.10 ribu kepada pengunjung yang menggunakan mobil. Namun di Brayeun saat penulis mengunjungi beberapa waktu lalu, perhitungan tiket pengunjung sudah fair. Tiap pengunjung dewasa dikenakan tiket masuk Rp.3000, anak-anak bebas tiket.

Pada sebuah tikungan sempit sudah berdiri beberapa anak muda yang mengatur keluar masuk mobil. Lumayan juga pelayanan yang diberikan. Tidak cuma hanya mengutip uang masuk tapi juga sudah mulai profesional dalam mengatur pengunjung. Tapi sayangnya pengaturan yang sudah baik itu menjadi tampak buruk dengan kutipan uang parkir yang mencapai Rp.10 ribu! Pungutan ini tanpa disertai tanda bukti pembayaran dan layanan apapun. Tapi sudahlah, mari kita nikmati kesejukan air bendungan Brayeun saja.

Memasuki lokasi pemandian, mulai tampak keramaian para pengunjung. Lazimnya tempat wisata lokal, disepanjang jalan masuk dipenuhi oleh penjual makanan ringan. Mereka menjual berbagai makanan yang berbeda-beda tapi uniknya tiap warung selalu satu jenis makanan yang sama. Setiap warung menyediakan goreng-gorengan seperti pisang goreng, tahu goreng, risol dan lain-lain. Penjual memanfaatkan selera manusia yang suka akan makanan panas setelah berdingin-dingin ria.
Mata kembali dimanjakan oleh hamparan kolam bendungan Brayeun yang kira-kira seukuran lapangan bola kaki. Kolam mempunyai hulu di kaki gunung yang masih rimbun pepohonan. Pemandangan masih tampak asri. Di beberapa tempat tampak dinding tembok bendungan yang roboh, mungkin suatu waktu pernah dihantam banjir bandang. Jenis banjir ini memang sangat sering melanda kawasan pegunungan.

Ramai pengunjung, terutama anak-anak muda yang mandi di kolam tersebut. Anak-anak juga tak ketinggalan mandi di kolam berair sejuk, umumnya mandi disisi pinggir kolam yang memang dangkal, sekitar setengah meter. Jika ingin berenang yang puas silahkan melompat ke tengah kolam yang lebih dalam. Beberapa anak muda menampilkan atraksi lompat jumpalitan dari sebatang pohon yang berada dipinggir kolam.

Indah dan nyaman memang menikmati pemandian Brayeun Leupung ini. Apalagi jika pengelola mampu menjaga kerapian dan kebersihan lokasi. Sebuah masalah klasik arena wisata yang nyaris terdapat disemua tempat. Apalagi lahan parkir yang sempit, jalan yang belum beraspal menjelang lokasi, jangan sampai hambatan-hambatan ini membuat orang enggan berwisata. Bayangkan saja, mandi di kolam berair yang sejuk dikelilingi pohon duren, amboi enaknya. Berikut foto-foto nya:








Ulu Masen, Nuansa Surgawi Pengunungan yang Menggoda



Bagi Anda yang berjiwa petualang, kawasan wisata ini bisa dijadikan tempat bermanja. Alam nan menawan akan memberi sejuta nuansa surgawi pegunungan yang menggoda. Tak ada salahnya mencoba menikmatinya di sini. Adalah Lhok Jawa, sebuah daerah aliran sungai yang mempesona.

Lhok Jawa memang belum terlalu dikenal oleh wisatawan domestik di Aceh. Tetapi, cukup sering didatangi oleh wisatawan manca Negara. Berlokasi di kaki kawasan ekosistem Ulu Masen, membuat Lhok Jawa nyaris tak tersentuh tangan jahil manusia. Aliran sungai yang cukup deras, selalu menggoda untuk menguji nyali dan keahlian berenang atau bahkan arung jeram kecil-kecilan.

Lhok Jawa juga menjadi destinasi rekreasi bagi warga lokal di permukiman Ligan, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya. Di sini masyarakat memanfaatkan kemolekan sungai untuk sekedar mandi, bercengkrama hingga mengail ikan.

"Di sini dengan mudah kita bisa mendapatkan Ikan Keureuleng, yakni ikan yang memang menjadi ciri khas sungai pantai barat aceh," sebut Hendri, warga Desa Ie Jeureungeh, Ligan.

Menurut Hendri, jika pengunjung terus beranjak ke arah hulu, bisa mendapatkan ikan dengan ukuran besar. "Bisa saja seukuran lengan orang dewasa, dan daging ikan ini memiliki cita rasa yang lezat," katanya.
Bagi masyarakat di Kabupaten Aceh Jaya, konon Ikan Keureuleng adalah makanan yang hanya dikonsumsi oleh kaum bangsawan dan raja-raja.

Turun dari tempat pemandian Lhok Jawa, kita bisa menemukan lokasi bangunan pondok yang merupakan pos Conservation Response Unit (CRU) Sarah Deu. Biasanya, di sinilah para wistawan menginap dan kemudian bisa berjalan menikmati kemolekan hutan di kawasan kaki Pegunungan Ulu Masen.

Pos CRU ini adalah pos konservasi gajah. Tak heran jika kita kemudian akan menemukan lima ekor gajah jinak di pos ini. Selain menjaga keseimbangan hutan, gajah-gajah jinak ini juga bertugas sebagai 'polisi ' jika ada kawasan gajah liar menyambangi kampung dan penduduk di desa-desa di kemukiman Ligan.

"Gajah-gajah jinak ini tidak hanya bekerja mengusir gajah liar di desa-desa yang dekat dengan pos, melainkan juga hampir diseluruh hutan di kawasan Kabupaten Aceh Jaya," jelas Fendra, coordinator CRU sampoiniet yang juga merupakan aktifis lembaga Fauna Flora Internasional (FFI) Indonesia.

Sarah Deu sendiri awalnya memang merupakan 'medan perang' antara manusia dan gajah yang paling kesohor.

"Agar damai tercipta, kita jadikan tempat ini sebagai lahan konservasi, untuk meminimalkan konflik, dan dalam perjalanannya hingga kini, terus dikembangkan menjadi destinasi wisata alam," jelas Fendra.

Dari area menyeramkan, Sarah Deu disulap menjadi kawasan menyenangkan. Kawasan Sarah Deu juga difungsikan sebagai 'taman belajar'.

"Kawasan ini juga menjadi kawasan edukasi bagi warga untuk menjaga lingkungannya," kata Fendra.

Jangan khawatir, bagi Anda yang memang senang berjalan-jalan menikmati suasana hutan, pasukan gajah-gajah di Sarah Deu ini, juga bersedia mengantar para wisatawan untuk mengitari hutan.

"Track yang disediakan adalah track menuju kawasan Rangkoh. Biasanya para wisatwan bisa mengitari hutan dengan menunggangi gajah selama hingga 2 jam, pemandangan pohon-pohon besar dan aneka tumbuhan langka bisa ditemui di rute ini," ujar Muhadi, asisten mahout di Sarah Deu.

Aksi jalan-jalan juga bisa diakhiri dengan menginap di hutan. "Tentu ini akan lebih eksotis dan memberi nuansa petualangan yang luar biasa, setelah menginap di hutan, keesokan harinya bisa kembali ke pos dan kemudian menikmati air sungai yang sejuk dan alami," jelas Muhadi.

Fasilitas wisata memang belum dibangun dikawasan ini. Tujuannya, agar lokasi ini terus terjaga secara alami dan para wisatawan bisa menikmati alam yang benar-benar belum tersentuh.

"Hampir setiap bulan banyak tamu yang berkunjung. Kebanyakan adalah orang asing. Ada yang dari Australia, Eropa, dan mereka ingin menikmati hutan, mereka bisa menginap 3 hingga 4 hari ditempat ini," sebut Rizal, seorang pemandu wisata di CRU Sarah Deu.

Selain Rangkoh, rute lainnya yang juga bisa dinikmati oleh para wisatawan adalah rute air terjun SP V. Bedanya, kalau berwisata melalui rute ini, para wisatawan tidak menggunakan gajah, melainkan menggunakan sepeda motor 2 tak, yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki.

"Rute ini akan berakhir dilokasi air terjun SP V, dan dipastikan setelah tiba dilokasi air terjun semua rasa penat yang dirasakan selama berjalan kaki sebelumnya akan hilang dengan seketika," jelas Rizal.

Menuju kawasan Sarah Deu dan Lhok Jawa ini memang gampang-gampang susah. Lokasi ini bisa dijangkau dengan angkutan umum jenis minibus L-300. Sebagian besar pengunjung selalu menggunakan kendaraan sewaan untuk datang ke sini.

Lokasi wisata ini berjarak lebih dari 100 kilometer ke arah barat dari pusat Kota Banda Aceh. Menempuh waktu perjalanan lebih kurang selama 2 jam, Anda akan menempuh perjalanan tidak akan membosankan karena di sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan pegunungan yang berbatas laut biru nan mempesona. Ingin menguji adrenalin dengan menyusuri hutan bersama hewan bertubuh tambun, silakan berkunjung ke Sarah Deu-Lhok Jawa, Sampoiniet, Aceh Jaya.


Wisata Alam Penuntungan Subulussalam


Wisata alam Penuntungan ini terletak di kecamatan Penanggalan. Secara geografis berada di barat Laut Kecamatan Penanggalan. Lebih tepatnya masuk dari Gapura yang berada di Jalan Raya Subulussalam Penanggalan. Kalau anda datang dari arah barat Subulussalam (Tapaktuan, Blang Pidie dan searah dari jalan tersebut) maka Wisata alam ini berada di sebelah kiri. Namun, bila anda datang dari arah timur (Medan, Sidikalang dan searah dari jalan tersebut) maka anda Wisata alam ini berada di sebalah kanan.

Wisata alam ini tempat yang sangat cocok untuk berakhir pekan bersama keluarga, teman kantor, teman tongkrongan dan lainnya dikarenakan air nya yang bersih serta suasana yang masih alami dengan pepohonan rindang. Sehingga udara yang kita hirup sangat baik kadar kualitasnya. Bahkan, di seberang aliran sungai tersebut terdapat sebuah Air terjun (yang saya perkirakan tingginya mencapai 20 meter dan lebar nya 3 meter).

Foto diatas saya ambil pada saat liburan Hari Raya Idul Fitri 1429 H (3 Oktober 2008). Lokasi wisata akan dipadati pengunjung pada saat hari libur. Terutama pada hari Raya, bahkan pernah saya temui pengunjung yang berasal dari Padang Sidempuan yang serta merta menyempatkan diri untuk melihat Lokasi wisata ini..
Kekurangan dari Lokasi wisata ini adalah jalan menuju lokasi masih belum ber-aspal (lebih kurang 5 Km) serta minimnya infrastruktur di dalam Lokasi wisata tersebut. Seperti MCK belum ada dan tempat berteduh yang nyaman. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya Kota Subulussalam, saya yakin dan optimis Lokasi ini akan menjadi lebih baik sehingga menjadi aset Wisata Subulussalam.



Monday, December 3, 2012

Sepenggal Sejarah di Rumah Cut Meutia


Kroeng (karung atau tempat menyimpan padi) berjumlah tiga buah tegak di sisi kanan halaman rumah. Tidak jauh dari karung itu terdapat sebuah jeungki (alat penumbuk padi). Di samping jeungki, tampak balai tempat istirahat berukuran lebih kurang 3×4 meter.

Begitulah pemandangan di halaman rumah Cut Meutia di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matang Kuli, Aceh Utara. Cut Meutia adalah perempuan pahlawan dari Aceh yang gagah berani melawan penjajahan Belanda karena tidak sanggup melihat bangsanya ditindas.

Selain karung, jeungki, dan balai, di halaman rumah khas Aceh itu juga terdapat prasasti dan monumen yang bertuliskan sejarah singkat perjuangan Cut Meutia yang juga dikenal sebagai Cut Nyak Mutya. Di halaman depan rumah terdapat kolam, yang menurut sejarah kolam itu tempat perempuan pahlawan ini memancing ikan.

Pagi itu, Minggu (3/6), penulis melawat ke rumah yang telah dijadikan salah satu situs sejarah di Aceh Utara. Rumah itu berjarak lebih kurang tiga kilometer dari pusat Kecamatan Matang Kuli. Jalan menuju ke rumah pahlawan Aceh itu sudah beraspal, namun masih terdapat sejumlah lubang di badan jalan. Di sisi kiri-kanan jalan, kita bisa menikmati pemandangan areal sawah yang terhampar luas.
Sesampai pintu masuk halaman rumah, meski hari libur, hanya terlihat sejumlah remaja di halaman rumah itu. “Jam segini belum ramai, pengunjung biasanya nanti sore baru ramai,” ujar penjaga rumah, Muslem (30) saat ditemui Analisa.

Pada awal tsunami menghantam Aceh, tjuh tahun lalu, sejumlah warga asing banyak mengunjungi rumah ini. Mereka kebanyakan dari kalangan non-governmental organization (NGO), seperti warga negara Amerika Serikat (AS), Jepang, Korea, dan sejumlah negara lainnya.
“Banyak juga pengunjung dari daerah di luar Aceh, seperti dari Padang, Bandung, dan Bogor,” kata Muslem.

Minim benda sejarah

Bangunan rumah tradisional Aceh itu adalah panggung. Ketinggian lantainya dari tanah sekitar tiga meter. Untuk masuk ke dalam rumah, kita harus menaiki tangga dari kayu. Di depan pintu masuk ini juga terdapat ukiran.

Saat berada di dalam rumah yang beratap daun rumbia itu, ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Di dalamnya, tidak banyak bukti sejarah yang terlihat. Hanya terdapat beberapa lukisan Cut Meutia. Selain itu sejumlah foto sejarah para pemimpin pasukan Belanda dipajang di dinding rumah.
Di dalam rumah yang mempunyai dua kamar itu, kita tidak menemukan peninggalan sejarah selain foto dan dua buah rapa’i (alat musik Aceh).

“Pengunjung banyak mengeluh karena tidak banyak terdapat bukti sejarah orang Aceh dulu seperti pedang, uang dirham, dan pakaian adat Aceh,” papar Muslem.

Pria yang sudah 11 tahun dengan setia menjaga rumah pahlawan Aceh itu mengharapkan supaya pemda mengisi rumah kebanggaan masyarakat Aceh itu dengan sejumlah bukti sejarah dan bahan bacaan tentang sejarah Aceh.

Sebelum dirawat oleh Muslem, rumah Pahlawan Nasional itu dirawat Hamidah (46), penduduk setempat. Kini, Hamidah membuka kantin sederhana yang terletak tidak jauh dari rumah bersejarah ini.

Menurut Hamidah, rumah itu sudah diperbaiki total oleh pemda. “Hanya lokasinya saja di situ. Semua bangunan sudah direhab,” katanya.

Menurut dia, sebelum diganti rugi oleh pemda, rumah Cut Meutia terakhir kali ditempati oleh T Johan. “Cucu Cut Meutia itu sudah meninggal beberapa tahun lalu,” tambahnya.

Berdasarkan catatan sejarah, Cut Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Chik Tunong. Namun, pada Maret 1905, Chik Tunong ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Chik Tunong berpesan kepada sahabatnya, Pang Nanggroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.

Cut Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe.

Pada suatu pertempuran dengan Korps Marsose di Paya Cicem, Cut Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nanggroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada 26 September 1910.

Cut Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun, pada 24 Oktober 1910, Cut Mutya bersama pasukannya bentrok dengan marsose di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itulah Cut Meutia gugur.


Sumber

Asam Sunti, si Asam dari Serambi Mekah



Di antara beragam jenis bumbu tradisional yang rasanya asam, asam yang satu ini hampir tak pernah absen dari dapur Aceh. Biasa dipakai untuk bumbu gulai dan kari. Rasa asamnya yang segar membuat sambal jadi enak!

Buat orang Aceh bumbu yang satu ini wajib ada di dapur. Asam sunti merupakan bumbu yang banyak dipakai untuk memberi rasa asam gurih pada gulai uengkoet dan keumamah. Rasa asam ini bisa membuat olahan ikan tidak anyir dan lebih enak rasanya.

Biasanya dibuat sendiri di rumah karena terbuat dari belimbing sayur atau belimbing wuluh. Belimbin wuluh yang tua dijemur di bawah sinar matahari hingga layu. Kemudian ditaburi garam dan dibiarkan hingga meresap. Proses ini diulang beberapa kali hingga belimbing menjadi kecokelatan dan kering. Teksturnya kenyal-kenyal agak liat.

Asam ini bisa dipakai utuh, dipotong kecil atau dihaluskan bersama bahan bumbu lainnya. Rasa asam segar belimbing akan keluar saat direbus dengan bumbu lainnya. Buat orang Aceh, tak lengkap rasa gulai jika tak ada aksen rasa asam unik, si asam sunti ini.
Kalau tidak membuat sendiri, asam sunti bisa dibeli di pasar tradisional. Di Jakarta bisa diperoleh di pasar swalayan atau pasar tradisional bagian bumbu dapur. Sebaiknya taruh dalam wadah tertutup dan simpan di tempat kering agar asam sunti tak mudah berjamur.


Sumber

Jenis Tarian Seni Budaya Aceh


Seperti halnya didaerah lain, Aceh juga mempunyai sebuah tarian adat yang telah turun menurun lamanya.Ini membuktikan bahwa masyarakat aceh selalu menjaga atas warisan yang telah di berikan oleh para leluhur.

Biasanya tarian-tarian adat aceh sering kita lihat pada acara-acara resepsi, baik itu resepsi pernikahan maupun resepsi adat lainnya. PKA (Pekan Kebudayaan Aceh) adalah sebuah pameran terbesar yang akan menampilkan semua jenis kebudayaan aceh, baik dari segi tarian, makanan dan budaya adat lainnya.

1. Saman

Tarian saman diciptakan dan dikembangkan oleh seorang tokoh Agama Islam bernama Syeh Saman. Syair saman dipergunakan bahasa Arab dan bahasa Aceh. Tarian ini tidak mempunyai iringan permainan, karena dengan gerakan-gerakan tangan dan syair yang dilagukan, telah membuat suasana menjadi gembira. Lagu-lagu (gerak-gerak tari) pada dasarnya adalah sama, yakni dengan tepukan tangan, tepukan dada dan tepukan di atas lutut, mengangkat tangan ke atas secara bergantian.

2. Tari Likok Pulo Aceh

Tarian ini lahir sekitar tahun 1849, diciptakan oleh seorang Ulama tua berasal dari Arab, yang hanyut di laut dan terdampar di Pulo Aceh atau sering juga disebut Pulau (beras). Diadakan sesudah menanam padi atau sesudah, biasanya pertunjukan dilangsungkan pada malam hari bahkan jika tarian dipertandingkan berjalam semalam suntuk sampai pagi. Tarian dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar bahu membahu. Seorang pemain utama yang disebut syeh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh rapai berada dibelakang atau sisi kiri/kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan, tangan dan kepala. Gerakan tari pada prinsipnya ialah gerakan olah tubuh, keterampilan, keseragaman/keserentakan dengan memfungsikan tangan sama-sama ke depan, kesamping kiri atau kanan, ke atas dan melingkar dari depan ke belakang, dengan tempo mula lambat hingga cepat.

3. Laweut

Laweut berasal dari kata Salawat, sanjungan yang ditujukan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Sebelum sebutan laweut dipakai, pertama sekali disebut Akoon (seudati Inong). Laweut ditetapkan namanya pada Pekan Kebudayaan Aceh II/PKA II). Tarian ini berasal dari Pidie dan telah berkembang di seluruh Aceh. Gerak tari ini, yaitu penari dari arah kiri atas dan kanan atas dengan jalan gerakan barisan memasuki pentas dan langsung membuat komposisi berbanjar satu, menghadap penonton, memberi salam hormat dengan mengangkat kedua belah tangan sebatas dada, kemudian mulai melakukan gerakan-gerakan tarian.

4. Tari Pho

Perkataan pho berasal dari kata peuba-e, peubae artinya meratoh atau meratap. Pho adalah panggilan/sebutan penghormatan dari rakyat/hamba kepada Yang Maha Kuasa yaitu Po Teu Allah. Bila raja yang sudah almarhum disebut Po Teumeureuhom. Tarian ini dibawakan oleh para wanita, dahulu biasanya dilakukan pada kematian orang besar dan raja-raja, didasarkan atas permohonan kepada Yang Maha Kuasa, mengeluarkan isi hati yang sedih karena ditimpa kemalangan atau meratap melahirkan kesedihan-kesedihan yang diiringi ratap tangis. Sejak berkembangnya agama Islam, tarian ini tidak lagi ditonjolkan pada waktu kematian, dan telah menjadi kesenian rakyat yang sering ditampilkan pada upacara-upacara adat.

5. Seudati

Sebelum adanya seudati, sudah ada kesenian yang seperti itu dinamakan retoih, atau saman, kemudian baru ditetapkan nama syahadati dan disingkat menjadi seudati. Pemain seudati terdiri dari 8 orang pemain dengan 2 orang anak syahi berperan sebagai vokalis, salah seorang diangkat sebagai syekh, yaitu pimpinan group seudati. Seudati tidak diiringi oleh instrument musik apapun. Irama dan tempo tarian, ditentukan oleh irama dan tempo dari lagu yang dibawakan pada beberapa adegan oleh petikan jari dan tepukan tangan ke dada serta hentakan kaki ke tanah. Tepukan dada memberikan suara seolah-olah ada sesuatu bahan logam di bagian dada atau perut yang dilengketkan sehingga bila dipukul mengeluarkan suara getar dan gema.


Sumber

Tari Saman Bikin Warga Prancis Terpukau


Penari Saman
London — Beragam busana tradisional daerah di Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua yang dikenakan remaja Perancis berhasil menarik perhatian penonton Festival La Fete des Bannieres du Monde 2012 yang berlangsung di kota di Lyon, Prancis.

Kontingen Indonesia juga menampilkan keindahan seni tari Serimpi dan tari Piring, karawitan Jawa, atraksi topeng Leak Bali, dan prosesi payung Bali, ujar Minister Counsellor KBRI Paris, Arifi Saiman, Senin.
Kegiatan karnaval budaya menempuh jarak sekitar dua kilometer dari Place de la Bourse di kawasan Hotel de Ville menuju Place Bellecour juga diikuti pemuda-pemudi Perancis pengagum Indonesia, anggota PPI Lyon dan Asosiasi Franco-Indonesienne Lyon.

Para pengunjung yang memadati kawasan jalan tempat berlangsungnya acara karnaval terpukau oleh keunikan, keindahan, dan keragaman pakaian tradisional Indonesia.
Perhatian pengunjung juga tertuju pada tari Saman, suasana riuh dan tepuk tangan para pengunjung terus menggema mengiringi setiap gerakan apik para penari Saman.

Acara festival internasional tahunan ini diikuti 64 negara diantaranya Amerika Serikat, Jerman, Belgia, Luxembourg, Rusia, Norwegia, Belanda, Swiss, Turki, Portugal, Ceko, Italia, Polandia, Ukraina, Brazil, Afrika Selatan, serta Prancis sebagai tuan rumah.
Inilah kali pertama Indonesia terlibat dalam ajang serupa.

Pada setiap penyelenggaraannya kegiatan ini dilaporkan mampu menarik ribuan pengunjung. Bahkan khusus acara karnaval dan pergelaran seni budaya, disaksikan sekitar 500 ribu pengunjung.
Selama pameran, pengunjung minta informasi mengenai kunjungan wisata ke Indonesia, mulai dari soal visa turis, fasilitas akomodasi dan transportasi lokal, obyek pariwisata dan, masalah keamanan berwisata, sampai dengan soal rute penerbangan dari Prancis ke Indonesia.


Sumber

Wisata Alam Air Terjun Suhom di Aceh Besar


Lokasi wisata alam Air Terjun Suhom di Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, saat ini terutama pada setiap akhir pekan atau libur selalu ramai dipadati pengunjung yang berekreasi, baik warga lokal maupun wisatawan asing. Berbeda halnya ketika kondisi Aceh masih terjadi konflik, sedikit sekali orang yang berkunjung ke sana.

Pengunjung yang berasal dari luar kota atau turis mancanegara yang berkunjung biasanya ingin mengetahui lebih mendalam tentang seluk beluk Air Terjun Suhom, di tempat ini terdapat pemandu wisata yang berasal dari warga setempat.
Air terjun Suhom yang merupakan nama kampung itu, mulai ramai dikunjungi terlebih setelah Aceh mengalami musibah gempa dan Tsunami beberapa tahu lalu, padahal sebelumnya hanya wisata pantai yang dikunjungi oleh banyak wisatawan.

Posisi air terjun ini berada di tengah panorama alam yang indah dan alami. Di sekitarnya terdapat banyak pohon durian, sehingga pada musim durian banyak yang berjualan durian di sekitar air terjun.
Di samping itu, di sekitar air terjun juga terdapat lokasi yang dapat digunakan untuk berkemah (camping).

Air terjun yang deras ini juga menjadi sumber energi listrik bagi masyarakat di sekitar air terjun Desa Kreung Kala. Sebuah pembangkit listrik tenaga mikrohidro kini telah dibangun di dekat air terjun dan dioperasikan untuk mengaliri listrik kepada 200 KK (Kepala Keluarga) penduduk Desa Kreung Kala.
Sepanjang perjalanan dari Banda Aceh menuju ke lokasi air terjun, terhampar pemandangan yang menakjubkan dengan keindahan yang luar biasa, deburan ombak dan pasir putih terlihat dekat di sepanjang jalan, dan tampak pula barisan pegunungan yang menjulang tinggi dan berdiri begitu indah.

Air terjun ini masuk dalam dua desa, yakni Desa Suhom dan Desa Kreung Kala. Untuk mencapai Air Terjun Suhom dari Banda Aceh, memerlukan waktu kurang lebih satu jam dengan menggunakan angkutan atau kendaraan pribadi.
Perjalanan ke sana melalui rute jalan raya Banda Aceh – Calang (Aceh Jaya), melewati Pantai Lampuuk, Pantai Lhoknga dan Kecamatan Leupung.

Saban harinya, terutama pada hari Sabtu dan Minggu tempat yang berlokasi sekitar 55 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh tersebut kerapkali dikunjungi ratusan bahkan ribuan masyarakat dari Banda Aceh dan Aceh Besar, bahkan ada juga yang sengaja datang dari Lamno, Kabupaten Aceh Jaya.


Sumber

Tuesday, November 20, 2012

Daftar Nusantara


Artikel Nusantara Terbaru





Daftar Artikel Nusantara